Iluvmyclass’s Weblog

PENGAYAAN III.1

Posted on: September 6, 2008

Fakta: Politik Ekonomi Neoliberalisme dan Jatuhnya Mata Uang

Oleh: Eka Sastra (Wasekjen PTKP PB HMI)

Beberapa hari terakhir situasi ekonomi kita diwarnai oleh kepanikan akibat melemahnya nilai rupiah terhadap mata uang asing sampai batas yang mengindikasikan akan terulangnya krisis mata uang tahun 1997. Angka 11. 500 rupiah sebenarnya menunjukkan masuk akalnya prediksi tentang kemungkinan terjebaknya ekonomi kita dalam krisis mata uang jilid kedua apalagi langkah-langkah intervensi yang ditempuh oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kelihatannya tidak efektif dalam menguatkan nilai rupiah. Mengapa intervensi pemerintah dan BI tidak efektif, ada tiga kemungkinan yang bisa disampaikan disini,pertama bahwa pemerintah dan BI tidak kredible terhadap pasar, kedua semakin otonomnya pasar dari kontrol domestik dan yang ketiga adalah faktor yang jauh lebih fundamental sehingga langkah-langkah pemerintah dan BI tidak memiliki implikasi jauh bagi penguatan rupiah. Pemerintah dan BI termasuk kita semua perlu melakukan refleksi dari semua kemungkinan ini agar intervensi yang dilakukan dapat efektif dan menjadi first best sollution bagi perbaikan ekonomi nasional. Dimana sebenarnya masalahnya?

Ketergantungan Terhadap Dollar
Pola transaksi mata uang tentu saja tetap berlandaskan pada prinsip pasar yang terbangun dari dua kurva yaitu permintaan dan penawaran. Melemahnya rupiah menunjukkan tingginya permintaan terhadap dollar US yang tidak diiringi dengan tingginya angka penawaran dollar US sehingga mendorong meningkatnya harga dollar. Mengapa permintaan terhadap dollar US begitu tinggi? Ada dua kelompok yang mencoba memberikan penjelasan tentang pemicu tingginya angka permintaan terhadap dollar. Kelompok yang pertama lebih melihatnya sebagai implikasi dari kepanikan bahkan spekulasi sehinga terjadi pembelian besar-besaran terhadap dollar. Sementara kelompok yang kedua lebih menekankan pada melemahnya fundamental ekonomi sehingga mendorong tingginya angka permintaan terhadap dollar. (Thee Kian Wie, 2004: 113-116). Walaupun berangkat dari dua latar pemikiran yang berbeda, kedua pandangan ini kelihatannya memiliki kemungkinan saling melengkapi. Artinya pelemahan nilai rupiah bisa jadi disebabkan oleh dua hal ini sekaligus yaitu lemahnya fundamental ekonomi Indonesia yang mendorong reaksi panik serta spekulasi dari spekulan.

Untuk kasus Indonesia misalnya, tingkat permintaan akan dollar yang begitu tinggi dapat ditunjukkan dalam APBN yang kita susun maupun dalam pasar uang. Dalam anatomi ABPN, tingginya kebutuhan akan dollar US yang mendongkrak permintaan dapat dilihat dari angka hutang luar negeri yang jatuh tempo tahun ini, termasuk juga transaksi ekspor-impor yang menggunakan dollar sebagai alat transaksinya, defisit perdagangan tentu saja akan mendorong tingginya permintaan terhadap dollar. Untuk sektor riil kita, rendahnya angka keterkaitan sektoral yang terlihat bila menggunakan input output tahun 1990, 1995 dan 2000 merefleksikan tingginya angka ketergantungan proses produksi kita terhadap input eksternal baik bahan baku, bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Fenomena ini yang dijelaskan sebagai deformasi struktural dalam teori dependensi yaitu keterbelahan sektoral sehingga ketergantungan akan input eksternal sangat tinggi yang tentu saja membutuhkan dollar dalam transaksinya. Repotnya bahwa defisit perdagangan terjadi karena secara umum sektor manufaktur kita mengalami defisit. Dari sisi ini, tingginya angka kebutuhan terhadap dollar yang mendongkrak permintaan dapat dijelaskan sebagai manifestasi tingginya angka ketergantungan ekonomi domestik dan absennya kemandirian ekonomi bangsa (Eka, 2002).

Di pasar uang, investasi portofolio yang memiliki angka ketidakpastian tinggi menunjukkan trend yang juga sangat tergantung pada dollar US. Repotnya bahwa investasi di portofolio ini adalah investasi yang tidak dapat dikontrol sehingga setiap saat dollar dapat terbang mendadak (capital flight). Kinerja investasi portofolio inilah yang ditenggarai menjadi salah satu pemicu dari parahnya krisis ekonomi Indonesia (Tambunan, 1998). Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap dollar dapat ditemukan disektor ini sehingga pasokan dollar sangat dibutuhkan dan tambahannya bahwa sewaktu-waktu kemungkinan terjadinya capital flight yang menghabiskan cadangan dollar sangat terbuka kemungkinannya disektor portfolio ini. Aksi profit taking, kepanikan dan spekulan sangat terbuka peluangnya disketor ini.

Neoliberalisme dan Ketergantungan Ekonomi Indonesia
Dengan fundamental ekonomi Indonesia seperti ini, tentu saja kebutuhan akan dollar menjadi prinsip dasar bagi bergeraknya produksi domestik. Permintaan ini tanpa diimbangi oleh penawaran dollar tentu saja akan mengimplikasikan pelemahan rupiah secara permanen. Penawaran akan dollar secara fundamental disebabkan oleh beberapa hal seperti investasi asing, peningkatan ekspor bahkan yang paling buruk adalah hutang luar negeri. Sayangnya bahwa laju investasi yang rendah tidak mampu menyediakan pasokan dollar yang memadai akibat rendahnya kinerja investasi asing kita. Kinerja ekspor-impor kita disamping mengalami defisit juga memberikan penjelasan sederhana bahwa eksportir kita ternyata lebih suka memarkir dollarnya di luar negeri sehingga tetap saja cadangan dollar kita tidak mampu mengimbangi angka permintaan yang tinggi. Sementara hutang luar negeri kita sudah menunjukkan negative transfer, lebih banyak yang harus kita bayar daripada yang kita terima. Bahkan hutang luar negeri kita bukan hanya negative trasfer bahkan menunjukkan trend debt trap, terjebak permanen dalam utang luar negeri.

Apa artinya semua ini? Bahwa ekonomi kita sangat tergantung terhadap input domestik. Hal yang selama ini dikampanyekan oleh pemikir neolib bahwa keterbukaan ekonomi dan tidak adanya intervensi pemerintah akan menghilangkan distorsi ekonomi dan mendorong ekonomi pada titik ekuilibrium yang menguntungkan semua pihak. Mereka lupa menyampaikan kalau ketergantungan memiliki derajat berbeda dalam polanya, ada saling ketergantungan yang setara dan ada saling ketergantungan dimana satu pihak mengalami subordinasi secara permanen. Krisis ekonomi dan macetnya produksi domestik sampai –13,7% kecuali sektor pertanian, pertambangan dan kebutuhan umum menjelaskan betapa lemahnya fundamental ekonomi kita dan tingginya angka ketergantungan ekonomi kita. Mereka juga lupa menyampaikan bahwa permintaan dan penawaran tidak berjalan secara alamiah dan kadang melahirkan kelompok yang kalah, sehingga intervensi pasar menjadi sangat penting. Suatu hal yang sangat ditabukan oleh rezim neoliberalisme.

Situasi ketergantungan yang ada tentu saja akan menjadi lahan empuk bagi para spekulan dan sekaligus menciptakan efek panik. Bayangkan ditengah tingkat kebutuhan akan dollar yang tinggi, baik untuk input produksi domestik, membayar hutang ataupun kebutuhan lainnya yang tidak dapat ditunda. Dan pada saat itu pula spekulan melakukan pembelian besar-besaran terhadap dollar yang terjadi adalah betapapun mahalnya dollar akan kita beli karena kebutuhan yang mendesak dan bayangkan aksi panik yang menyertainya. Pada saat yang bersamaan, langkah intervensi pasar menjadi sangat terbatas akibat rezim kurs dan devisa bebas serta deregulasi di sektor moneter yang telah dipaksakan ke kita oleh pemilik modal internasional. Beginilah nasib bangsa yang ekonominya terjajah.

Dari ketergantungan ke kemandirian
Berangkat dari potret ketergantungan diatas, tanpa ada pembenahan pada fundamental ekonomi Indonesia secara radikal, yang terjadi hanyalah pengulangan krisis secara permanen. Harus ada terobosan baru dari pemerintahan yang ada untuk menguatkan perekonomian nasional dan sekaligus menghilangkan ketergantungan yang kita derita. Secara sederhana, bila ekonomi kita tertata secara mandiri, tingkat kebutuhan akan input eksternal seperti barang dan dollar dapat diminimalisir sehingga gejolak mata uang malah akan menguntungkan kita. Karena itu agenda besarnya adalah bagaimana mewujudkan tatanan ekonomi bangsa yang mandiri. Untuk itu dibutuhkan politicall will dari pemerintahan yang ada untuk merombak tatanan perekonomian nasional dalam kerangka mewujudkan kemandirian. Negara-negara lain yang terlibat dalam hubungan internasional sebenarnya menyiapkan tatanan ekonomi bangsanya yang mandiri setelah itu baru berani untuk mendorong isu pasar bebas ataupun keterbukaan ekonomi. Tidak serta merta melakukannya seperti bangsa kita sehingga menjadi sapi perahan dari globalisasi ekonomi yang sedang terjadi.

Dalam kerangka mewujudkan kemandirian ekonomi nasional, yang penting adalah bagaimana mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang kita miliki. Potensi pasar dan produsen sebenarnya telah kita miliki, hanya saja praktek rent seeking seperti korupsi dan agenda neoliberalisme telah menggerogoti potensi dan sumber daya tadi. Karena itu, langkah awal untuk mendorong isu kemandirian adalah membersihkan para rent seekers dan neoliberalis tadi dan jalannya hanyalah dengan menguatkan penataan ekonomi nasional. Untuk itu kembali lagi dibutuhkan pemerintahan dengan kabinetnya yang memiliki pemahaman akan masalah dan politicall will untuk melaksanakannya. Sebuah langkah yang nyaris menjadi utopia tapi apa salahnya berharap dan mulai mendesakkannya secara serius?

(sumber: http://pembaharuan-hmi.com/modules.php?name=News&file=article&sid=2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: