Iluvmyclass’s Weblog

PENGAYAAN III.2

Posted on: September 6, 2008

Kemanusiaan, Teori Modernisasi, dan Dependensi
Oleh Agus Haryadi

TEPAT ketika Eropa, dan negara-negara Barat pada umumnya, memutuskan untuk melakukan pembongkaran teologis dengan memulai sejarah kapitalisme lewat konsep the Calling (Beruf dalam bahasa Jerman), maka industrialisasi dan modernisasi menjadi gelombang pasang yang tak terhindarkan. Lahirnya kelas borjuasi baru, yang menurut Web-ber ahistoris, memperkuat tesis yang diyakininya dalam The Ethic Protestant and The Spirit of Capitalism, bahwa radikalisasi etika Protestan secara efektif telah menciptakan bangunan baru berupa suprastruktur masyarakat kapitalis modern.

Yang sepenuhnya dilandasi pada relasi sosial yang rasional, industry oriented, modern, efektif, efisien, dan kosmopolitan. Emile Durkheim menyebutnya dengan term masyarakat organik.
Di awal kelahirannya, industrialisasi telah menunjukkan gejala-gejala yang dapat mengancam ekuilibrium diversitas antarkelas dalam masyarakat. Lepasnya negara dari konstruksi sosial yang terdapat di dalam masyarakat, telah berhasil menciptakan pasar yang demikian bebas. Laissez Faire! Begitu kurang lebih yang diteriakkan mereka yang meyakini kapitalisme-liberal sebagai sumber pemecahan masalah antara negara dengan masyarakat dan aspek-aspek ekonominya. Negara hanya sekadar pelaku netral, di luar masyarakat, yang melegitimasi distribusi aset-aset kapital kepada mereka yang memiliki kemampuan mengelola.

Abad 18 menjadi saksi kekejaman betapa kapitalisme telah melahirkan masyarakat yang sakit. Kesenjangan sosial yang tinggi antara pemilik modal dengan kaum buruh telah memberikan efek dehumanisasi terhadap kelas pekerja. Eksploitasi tenaga buruh secara kejam bersembunyi di balik slogan demokrasi dan modernitas. Kesejahteraan diabaikan. Pada era seperti inilah anak-anak zaman seperti Marx dan Engels lahir dan dibesarkan. Kesadaran revolusioner kelas pekerja telah membangkitkan semangat kaum buruh untuk merebut kembali hak-hak mereka yang sebelumnya tak didapatkan. Dan gelar manusia-manusia pemberontak pun disematkan secara sepihak di dada-dada kaum revolusioner oleh pemilik kapital yang diuntungkan oleh situasi status quo kapitalisme-liberal.

Untunglah kapitalisme segera menyadari diri. Kemunculan gagasan dasar neoliberal bersikeras menjembatani problema masyarakat dengan negara. Ide-ide yang muncul antara lain melalui gagasan Keynesian telah menggeser kebijakan ekonomi liberal menjadi statisme (state-isme)-bukan etatisme-yang mengarah pada menguatnya peran negara selaku penyelenggara kesejahteraan rakyat. Kapitalisme mereinkarnasikan dirinya dalam tampilan yang (sedikit) lebih humanis lewat neoliberalisme. Di batu ganjalan pertama ini, kapitalisme (untuk sementara?) lulus dari ujian tersebut. Namun, kita tak dapat secara tepat memastikan apakah kapitalisme akan berhasil lolos dalam ujian-ujian selanjutnya sebagaimana diyakini Francois Fukuyama yang dengan dramatis menyebutnya sebagai the end of history.
***

DALAM perkembangan selanjutnya, teori modernisasi diletakkan sebagai upaya menciptakan replikasi model pembangunan bergaya liberal untuk diadopsi negara-negara Dunia Ketiga. Pendekatan pertama dimunculkan oleh Webber yang melihat variabel etos sebagai varian utama dalam melihat keterbelakangan Dunia Ketiga. Tesis ini diperkuat oleh McClelland yang meyakini kondisi psikologis prakondisi suatu masyarakat dalam memandang prestasi (the need for achievement) secara signifikan berkorelasi positif terhadap kelangsungan pembangunan.
Lewat modernisasi pulalah kemudian diperkenalkan tahap-tahap pembangunan politik maupun ekonomi sebagai gerak perubahan yang unilinear dan gradual. Di dalamnya terdapat pemahaman mengenai teori evolusi yang menganalogikan masyarakat sebagai makhluk organik, yang lahir, tumbuh berkembang menjadi dewasa, dan akhirnya mati. Demikian halnya dengan pembangunan politik, yang (telanjur) menjadikan Barat sebagai model puncak modernitas dalam tahap-tahap pembangunan.

Adopsi atas model pembangunan Barat di Dunia Ketiga yang mulai berlangsung pasca-Perang Dunia Kedua, telah memberikan warna tersendiri bagi Indonesia dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya. Hingga hari ini, ternyata modernisasi tak kunjung mampu mengangkat martabat Dunia Ketiga sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Sebaliknya, eksploitasi transnasional yang muncul dalam wujud penanaman modal asing menggeser dan menggantikan bentuk kolonialisme yang semenjak lama dilakukan Barat terhadap Dunia Ketiga. Lewat isu HAM dan demokrasi, Barat memperlakukan Dunia Ketiga tak lebih dari sekadar anak didik yang bisa terus ditekan hingga melampaui batas titik normal. Indonesia dan negara Dunia Ketiga lainnya kian terpuruk, bahkan Indonesia khususnya, hampir-hampir mencapai titik nadir kebangkrutan sebagai bangsa, yang dimulai semenjak satu dekade terakhir Orde Baru hingga hari ini.

Kesadaran Dunia Ketiga mulai muncul dipelopori negara-negara Amerika Latin. Prebisch, Gunder Frank, dan Cardoso, adalah tiga nama yang bertanggung jawab mempopulerkan semangat kemandirian Dunia Ketiga dalam menghadapi negara maju. Bagi mereka, tak ada jalan selain bahwa Dunia Ketiga harus dipaksa masuk dalam percaturan dinamika industri di tingkat dunia. Hal inilah yang menginspirasikan Indonesia dan sebagian besar negara Dunia Ketiga lainnya yang berdampak pada munculnya ideologi pembangunanisme di samping ideologi formal yang telah ada. Manusia tak ditempatkan sesuai dengan kemanusiaannya, melainkan tak lebih sebagai robot-robot pembangunan pelengkap instrumen kapitalisme berskala nasional.

Agak berbeda dari negara-negara kapitalisme Barat yang telah lebih dulu memasuki industrialisasi, Dunia Ketiga memiliki logikanya tersendiri dalam menciptakan masyarakat industri. Di Dunia Ketiga, kebijakan industri justru muncul sebagai inisiatif negara, bukan masyarakat. Bila di Eropa dan negara-negara Barat lainnya industrialisasi berdampak pada demokratisasi politik, maka sebaliknya, kondisi obyektif Indonesia dan Dunia Ketiga lainnya, pasca-industrialisasi justru menampilkan wajah lain berupa terbentuknya pemerintahan otoriter yang secara sepihak menempatkan pembangunan sebagai basis ideologi negara dengan membunuh dimensi humanitas masyarakat, dan sekadar menjadikannya sebagai obyek pembangunan.

Hingga akhir tahun 1983, se-iring dengan jatuhnya harga minyak di pasaran dunia yang membawa perekonomian Indonesia kian surut, tersadari bahwa ketika pembangunan telah diposisikan sebagai ideologi sesungguhnya pembangunan telah memberikan dampak berupa tindak kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dan bahkan, pada tingkat tertentu pembangunan telah berganti kelamin menjadi kekerasan itu sendiri.
***

PERTUMBUHAN ekonomi yang mendapatkan prioritas dari pemerintahan Orde Baru telah melepaskan manusia dari kemanusiaannya. Politik menjadi barang tabu bagi masyarakat, kecuali bagi mereka yang dibenarkan oleh pemerintah. Itu pun tak lepas dari bentuk-bentuk korporatisme negara. Ideologi selain Pancasila dan pembangunan menjadi barang haram yang setiap waktu dapat mengancam keselamatan jiwa para penganutnya. Tak terhitung jumlah korban kemanusiaan yang harus jatuh atas nama pembangunan dan kepentingan nasional dalam kurun waktu tiga dasawarsa terakhir.

Sebagian besar, untuk tidak mengatakan seluruhnya, kebijakan yang dibuat pemerintahan Orde Baru secara oposisional berhadapan dengan dimensi lain dari kepentingan masyarakat. Pemerintah secara sistematis menjustifikasi kejahatan kemanusiaan atas nama pembangunan, dan menggusur rakyat dari rumahnya sendiri melalui stigmatisasi penghambat pembangunan. Derita yang diperoleh rakyat menemukan korelasi positifnya seiring dengan kian meningkatnya akselerasi pemerintah dalam mengkampanyekan ideologi pembangunan.

Di titik inilah kemudian terjadi diskoneksitas yang gamang antara kehendak pembangunan dengan ekspektasi kaum pekerja yang sesungguhnya menjadi core dalam proses pembangunan. Yang dengan posisinya semacam ini, seharusnya menjadi dominan dalam pembangunan ekonomi dan politik dalam melahirkan sebuah kebijakan.

Kegagalan modernisasi dan dependensi sebagai dua pendekatan teori pembangunan tentu mengindikasikan eksistensi variabel lain yang masih invisible untuk dicermati. Bahwa sesungguhnya pembangunan tak hanya sekadar melibatkan kerja-kerja otot yang ditempatkan sebagai obyek pembangunan. Di sinilah pemahaman yang komprehensif akan kondisi obyektif suatu bangsa sangat dibutuhkan.

Mungkin benar apa yang dikatakan Hirschman, “Harus ada konfrontasi yang cukup lama antara manusia dengan situasi, sebelum sebuah kreativitas atau solusi lahir.” Ungkapan tersebut menarik, karena sejumlah varian yang mempengaruhi kondisi-kondisi obyektif suatu bangsa memang berbeda dari bangsa lainnya. Perbedaan itu pula yang akhirnya membawa dampak perbedaan dalam orientasi pembangunan di setiap negara. Yang menjadi penting dalam konteks ini adalah penghargaan atas situasi kultural yang secara subyektif menjadi penentu paling signifikan atas keberhasilan pembangunan. Dengan menempatkan masyarakat sebagai subyek utama pembangunan, maka penghargaan atas kemanusiaan dijunjung tinggi. Dan sebaliknya, menempatkan manusia-manusia pembangunan dengan sebutan SDM (sumber daya manusia) harus segera dieliminasi, karena telah terjebak dengan menempatkan manusia sebagai faktor produksi yang tak berbeda dari faktor-faktor produksi lain yang tak memiliki “nilai kemanusiaan”.

Pembangunan yang dikampanyekan pemerintah tak seharusnya dimanifestasikan sebagai reduksionisme atas humanitas yang selayaknya dihormati. Pembangunan yang berorientasi kemanusiaan adalah pembangunan yang menempatkan kesejahteraan dan kebebasan mengaktualisasikan diri sebagai variabel utama pembangunan. Dengan menghindari keterjebakan dari semangat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengejar setinggi-tingginya penanaman modal asing. Namun, bermuara pada tergadaikannya core kebangsaan melalui aliansi segitiga antara kelompok-kelompok feodal, birokrasi, dan kapitalisme internasional.
Semangat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, an sich, terbukti tak cukup mampu memenuhi kebutuhan substansial masyarakat. Bahkan pada tingkat tertentu, sebenarnya, masyarakat bersedia untuk hidup menempuh kesulitan di awal pembangunan. Asalkan hal yang sama juga dilakukan oleh elite-elite pemerintahan yang sewajarnya memberikan keteladanan politik. Tak masalah bagi rakyat untuk membangun perekonomian dari bawah, asal pemerataan dapat dilangsungkan.

Di samping itu, untuk menjawab terjadinya diskoneksitas antara ekspektasi publik dengan elite birokrasi pemerintahan, maka harus muncul semacam jaminan dari institusi negara untuk menjaga pranata bagi partisipasi yang otonom dari masyarakat. Negara mesti berbesar hati memberikan kewenangan yang lebih luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam proses-proses artikulasi dan agregasi politik. Penciptaan korporatisme negara dalam berbagai wujudnya hanya akan mengkreasikan kembali dehumanisasi dalam wajahnya yang menyeramkan.

Indonesia harus secepatnya menemukan orientasi pembangunan dengan segala falsafah kemanusiaannya. Pembangunan yang melepaskan diri dari kemanusiaan, entah dalam perspektif modernisasi maupun dependensi, dapat dipastikan akan berakhir dengan kegagalan. Dependensi menginspirasikan keyakinan baru dalam manusia-manusia Dunia Ketiga, bahwa untuk mengejar ketertinggalan, mau tak mau, industri adalah keniscayaan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat. Di lain pihak, adopsi pembangunan politik dan ekonomi dalam riwayat panjang modernisasi akan sangat bermanfaat sebagai pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan kapitalisme kejam abad 18. Titik temu dependensi dan modernisasi dalam kemanusiaan, adalah pembangunan yang indah.
* Agus Haryadi, Kepala Divisi Pusat Studi Agama dan Peradaban, tergabung dalam Political Science Forum.

(sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0104/05/opini/kema04.htm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: